Unsur-unsur Pusi

Unsur-unsur Pusi
Dalam sebuah puisi terdapat unsur-unsur di dalamnya, baik mengenai kata,
susunan kata, perlambangan, gaya bahasa maupun bentuk pada sebuah puisi.
Untuk lebih jelasnya, Nenden Lilis A (2007) mengungkapkan bahwa unsur-unsur
puisi adalah sebagai berikut:

a) Diksi
Dalam penggunaan unsur diksi, penyair (pencipta puisi) melakukan
pemilihan kata (diksi). Kata-kata betul-betul dipilih agar sesuai dengan apa
yang ingin diungkapkannya dan ekspresi yang ingin dihasilkannya. Kata-kata
yang dipilih bisa dari kosakata sehari-hari atau formal, dari bahasa Indonesia
atau bahasa lain (bahas daerah, bahasa asing, dan lain-lain), bermakna
denotasi (memiliki arti lugas, sebenarnya, atau arti kamus) atau konotasi
(memiliki arti tambahan, yakni arti yang ditimbulkan oleh asosiasi-asosiasi
(gambara, ingatan, dan perasaan) dari kata tersebut diluar arti denotasinya).

b) Citra / Imaji
Citra/imaji adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat memperjelas
dan memperkongkret apa yang dinyatakan penyair sehingga apa yang
digambarkan itu dapat ditangkap oleh panca indra kita. Melelui
pencitraan/pengimajian apa yang digambarkan seolah-olah dapat dilihat
(citraan penglihatan), didengar (citraan pendengaran), dicium (citraan
penciuman), dirasa (citraan taktil), diraba (citraan perabaan), dicecap (citraan
pencecap), dan lain-lain.

c) Lambang
Dalam puisi banya digunakan lambang, yaitu untuk penggantian suatu
hal atau benda dengan suatu hal atau benda lain. Lambang bermacam-macam
jenisnya. Jenis-jenis itu antara lain lambing benda dan lambing warna. Arti
lambang, selain tergantung pada konteks kalimatnya, biasanya tergantung
pula pada arti yang telah disepakati secara sosial dan budaya. Sebagai contoh,
bersalaman adalah lambang persahabatan, pertemuan atau perpisahaan.

d) Bunyi
Bunyi dalam puisi merupakan salah satu unsur yang dipentingkan oleh
penyair. Bunyi, selain berfungsi untuk menambah keindahan dan kenikmatan
dari puisi, juga berfungsi untuk memperdalam ucapan (daya ungkap),
menimbulkan rasa, menimbulkan suasana yang khusus, dan lain-lain. Setiap
kata memiliki unsur bunyi. Bunyi-bunyi dalam kata menimbulkan efek
tersendiri, kata yang dominan dengan bunyi konsonan, misalnya: m, b, p, t, k,
dan lain-lain. Menimbulkan kesan berat. Contohnya: kusut, rebut, buruk,
muram, dan lain-lain. Sebaliknya, kata yang dominan dengan huruf vocal
(vocal a misalnya), menimbulkan kesan ringan, girang, menyenangkan.
Contoh: bunga, mesra,dan lain-lain. Selain dengan pemanfaatan unsur bunyi
di atas, pemanfaatan unsur bunyi yang lainnya dalah dengan persamaan bunyi
(rima).

e) Irama
Dengan penyusunan dan pendayagunaan bahasa sedemikian rupa,
bahasa dapat menimbulkan irama tertentu. Irama dalam puisi akan
mempengaruhi maksud, nada, suasana, dan daya pikat puisi itu. Sadar akan
hal itu, unsur ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh penyair. Irama dalam
puisi dapat terjadi karena adal pengulangan pola waktu dan tekanan yang
terjadi secara teratur. Keteraturan itu terjadi anatara lain karena:
• Jumlah suku kata setiap larik / baris sama banyak.
• Letak suku kata yang mendapat tekanan ditempuh dalam waktu yang sama.
• Adanya intonasi.
• Permaianan bunyi / irama.

f) Gaya Bahasa
Gaya bahasa menurut Nurgiyantoro (1995: 277) adalah teknik
pemilihan ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu ya
akan diungkapkan oleh efek yang diharapkan. Teknik pemilihan ungkapan ini
dapat dilakukan dengan dua cara, yakni dengan pemajasan dan gaya retoris.
Permajasan adalah teknik pengungkapan dengan menggunakan bahasa
kias (maknanya tidak merujuk pada makna harfiah). Pemajasan terbagi
menjadi tiga, yaitu perbandingan / perumpamaan, pertentangan, dan
pertautan.

Gaya retoris adalah teknik pengungkapan yang menggunakan bahasa
yang maknanya langsung (harfiah), tetapi diurutkan sedemikian rupa dengan
mendayagunakan struktur, baik struktur kata maupun kalimat untuk
menimbulkan efek tertentu, misalnya dengan pengulangan, pembalikan
susunan, dan lain-lain.

g) Tipografi
 Tifografi adalah tata letak / perwajahan puisi. Puisi ada yang disusun dalam bait-bait, ada yang langsung, ada yang lurus, dan ada juga yang zig- zag. Tipografi ini dibuat penyair bukan tanpa maksud. Penyair mempertimbangkan bentuk tipografi ini sesuai dengan efek estetis dan efek makna yang ia kehendaki.

Dari poin-poin di atas maka yang harus diperhatikan dalam menulis
sebuah puisi harus memperhatikan poin-poin tersebut guna untuk memperkuat
dan mengindahkan bahasa maupun pesan yang disampaikan penulis puisi kepada
pembaca dan penikmat puisi. Sehingga dalam mengapresiasi isi pada puisi
tersebut akan lebih bermakna dan berkesan pada seeorang yang mengapresiasi
tersebut. Namun dalam pengapresiasian bentuk musikalisasi puisi, pengepresiasi
tidak dianjurkan untuk mengenal lebih dalam istilah-istilah di atas. Ari KPIN juga
menyebutkan dalam buku musikalisasi puisinya yakni seorang pemusikalisasi
puisi memang tidak harus menghafal istilah-istilah di atas. Yang penting ia tahu
dan dapat menangkap esensi unsur-unsur itu. Sehingga, ia dapat menafsirkan puisi
dengan baik.

Oleh karena itu, dalam mengapresiasi sebuah puisi kita dapat
mengetahui citra/imaji, makna konotasi dan denotasi, atau menyimpulkan dan
mengambil pesan dari puisi tersebut dan kita juga dapat mengaitkan isi dalam
puisi tersebut dengan kehidupan kita yang dialami maupun yang sudah dialami
sebelumnya.


Lihat Selengkapnya Disini

artikel sebelumnya Pengertian Puisi
Ranking: 5
 
© Download Gratis Area All Rights Reserved