Teori-Teori Psikologi Perkembangan Anak

Teori-Teori Psikologi Perkembangan Anak
1 Teori Perkembangan Bahasa
Perkembangan Bahasa Anak Usia 10-12 tahun
Ciri perkembangan bahasa pada tahap ini adalah sebagai berikut.
Selain ciri yang terdapat dalam anak usia 6-8, 8-10 tahun, maka ada
peningkatan kemampuan anak yang menjadi ciri mereka adalah bahwa
anak-anak sudah mulai bisa memahami dan menggunakan kalimat
kompleks dengan klausa-klausa atau anak-anak kalimat konsesi yang
dinyatakan dengan penggunaan: namun demikian, meskipun demikian,
walaupun begitu, meskipun begitu, dan sebagainya.

2 Teori Perkembangan Kognitif
Perkembangan Kognitif Anak Sekolah Usia 10 - 12
Ada dua ciri utama perkembangan kognitif anak pada usia ini, sebagai
berikut.
1. Anak-anak mengembangkan suatu pemahaman/pengertian mengenai
urutan kronologi peristiwa-peristiwa yang lalu.
2. Anak-anak menerapkan kaidah-kaidah logis, penalaran, dan operasi-operasi formal pada masalah-masalah dan proposisi-proposisi (rencana-rencana, sasaran-sasaran, hal-hal) yang abstrak.

3 Teori Perkembangan Pribadi
Perkembangan Pribadi Anak Sekolah Usia 10 - 12
Ada tiga ciri utama perkembangan pribadi anak-anak pada usia ini,
sebagai berikut.
1. Banyak anak-anak yang telah menginternalisasikan kontrol atau
pengawasan mereka; mereka yakin dan percaya bahwa mereka sedang
berada dalam pengawasan terhadap apa yang terjadi dan merasa lebih
bertanggung jawab secara pribadi atas keberhasilan dan kegagalan
mereka.
2. Kemandirian atau keberdikarian merupakan suatu ciri utama pribadi
mereka yang sangat bernilai/berharga bagi anak-anak.
3. Perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat dalam pertumbuhan
fisik mereka dapat menyebabkan beberapa anak menjadi sadar diri dan
mengeritik diri sendiri; anak lainnya mungkin saja diasyikkan dan
disibukkan oleh penampilan mereka sendiri.

4 Teori Perkembangan Sosial
Perkembangan Sosial Anak Sekolah Usia 10 - 12
Terdapat enam ciri utama perkembangan sosial pada usia ini, sebagai
berikut.
1. Anak-anak telah mengembangkan sikap-sikap rasial/kesukaan anak-
anak yang berprasangka-rendah meningkat dalam persepsi non-rasial;
anak-anak yang berprasangka tinggi meningkat dalam persepsi ciri-ciri
rasial.
2. Anak-anak suka melakukan tugas-tugas dengan baik sebagai pengganti
mulai dan menelitinya; perasaan-persaan inferioritas dan ketidakcakapan atau kekurangan dapat muncul kalau mereka tidak dapat memiliki sifat-sifat yang dikehendakinya terhadap ciri-ciri pribadi mereka.
3. Anak-anak memiliki perasaan keadilan dan menentang ketidaksempurnaan di dalam dunia.
4. Kelompok-kelompok sebaya menggunakan pengaruh-pengaruh yang
kuat pada anak-anak; persesuaian dan kecocokan dengan orang tua
menurun dan berkurang, serta persesuaian dengan teman-teman sebaya
meningkat dalam situasi-situasi sosial. Anak-anak mungkin menentang
orang tua.
5. Anak laki-laki dan anak perempuan menerima identitas atau jati-diri
yang berbeda jenis kelamin dengan dia
6. Anak-anak telah mengembangkan asosiasi-asosiasi yang kuat dengan
harapan-harapan tidak mementingkan jenis kelamin; anak perempuan
mungkin gagal dalam tugas-tugas ―pria‖; anak laki-laki mungkin saja
gagal melakukan tugas-tugas ―wanita‖.

5 Teori Perkembangan Psikologi
Piaget (Ahmadi & Sholeh, 2005: 39) membagi beberapa sifat khas
anak-anak pada masa Kelas-Kelas Tinggi Sekolah Dasar, yang merupakan
tahap perkembangan berdasarkan psikologis, sebagai berikut:
1. Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret; hal ini
menimbulkan adanya kecenderungan untuk membandingkan pekerjaan-
pekerjaan yang praktis.
2. Amat realistis, ingin tahu, ingin belajar.
3. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal dan mata pelajaran-
mata pelajaran khusus, yang oleh ahli-ahli yang mengikuti teori faktor,
ditafsirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor.
4.Sampai kira-kira umur 11;0 tahun anak membutuhkan seorang guru atau
orang-orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugasnya dan memenuhi
keinginannya; setelah kira-kira umur 11;0 tahun pada umumnya anak
menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikannya
sendiri.
5.Pada masa ini anak-anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran
yang tepat (sebaik-baiknya mengenai prestasi sekolah.
6.Anak-anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya
untuk dapat bermain bersama-sama.

6 Teori Perkembangan Didaktis
Maria Montessori (Ahmadi & Sholeh, 2005: 75). Membagi
periodisasi tahap perkembangan anak berdasarkan didaktis, atau materi
apa yang diperlukan oleh anak masa usianya, terkait dengan fokus
penelitian ini, yakni anak SD kelas 5 menuliskan bahwa pada masa usia
7;0-12;0 merupakan masa abtrak, di mana anak sudah mulai
memperhatikan masalah kesusilaan, mulai berfungsi perasaan etisnya yang
bersumber dari kata hatinya. Dia mulai tahu akan kebutuhan orang lain.

7 Teori Perkembangan Tanggapan
Dilihat dari perkembangan tanggapan, Oswald Kroh (Ahmadi &
Sholeh, 2005: 90) menuliskan bahwa pada masa usia anak 10-12 tahun
merupakan periodisasi realisme kritis, yaitu anak melakukan pengamatan
tanggapan yang bersifat kritis dan realistis. Anak sudah bisa mengadakan
sintesis logis, dan ia pun telah mampu menghubungkan bagian-bagian
menjadi satu totalitas, hal tersebut dikarenakan wawasan dan intelektual
anak sudah mencapai taraf kematangan.
Masih dalam perkembangan tanggapan, Meumann, menuliskan
bahwa pada usia 8-12 tahun merupakan fase analisis. Anak pada usia ini
mulai mengamati ciri dan sifat dari bermacam-macam benda. Bagian-
bagian dari benda nulai diperhatikan, tetapi belum mampu mengaitkan
dalam kerangka keseluruhan
(totalitas, fantasi anak sudah berkurang,
berganti dengan pikirannya).
 
8 Teori Perkembangan Fantasi
Dalam teori perkembangan fantasi, yang diungkapkan oleh
Charlotte Buhler (Ahmadi & Sholeh, 2005: 101) menuliskan bahwa anak
pada usia 8;0-12;0 tahun adalah masa cerita realistis, yaitu anak mulai
senang terhadap cerita-cerita yang nyata (pahlawan, sejarah, biologi, dan
lain-lain). Pada masa ini anak sudah mulai berkurang pengaruh fantasinya,
sebab pengamatannya sudah mulai tertib. Anak sudah dapat membedakan
antara yang khayal dan yang realistis.
memasuki masa realism kritis, di mana anak tidak menyukai lagi dongeng
yang fantastis, dongeng yang tidak masuk akal. Sekarang ia lebih
menyukai cerita yang benar-benar terjadi, cerita yang masuk akal seperti
cerita perjalanan; cerita roman, dan sebagainya.

9 Teori Perkembangan Moral
Robert J. Havighurst (Ahmadi & Sholeh, 2005: 105) menulis
bahwa pada usia anak 8;0-13;0 tahun, anak sudah mengenal ukuran baik,
buruk secara batin (tak nyata) meskipun masih terbatas, yaitu anak sudah
dapat menghargai pendapat atau alasan dari perbuatan orang lain. Anak
sudah mulai dapat menghormati terhadap orang lain yang patuh, taat atau
sebaliknya. Di sinilah anak mulai dapat mengendalikan dirinya sendiri,
walaupun dalam keterbatasan.

10 Teori Perkembangan Pengamatan
Meuman (Ahmadi & Sholeh: 2005: 92) menuliskan bahwa pada
usia 8-12 tahun, merupakan masa analisis. Dalam masa ini anak telah
mampu membeda-bedakan sifat dalam mengenal bagian-bagiannya,
walaupun hubungan antara bagian itu belum tampak seluruhnya.
Fantasinya mulai berkurang, diganti dengan pengamatan yang nyata
(realistis=yang nyata).
William Stern menulis bahwa pada masa usia anak SD kelas 5
membagi dalam dua masa, yaitu masa mengenal hubungan dan masa
mengenal sifat. Masa mengenal hubungan, yakni anak usia 9-10 tahun.
Pada usia ini anak mulai mengenai hubungan antara waktu, tempat, dan
hubungan sebab-akibat. Sedangkan masa mengenal sifat, yakni usia 10
tahun ke atas. Anak mulai menganalisis pengamatannya sehingga ia
mengenal sifat-sifat benda, manusia, dan hewan.
Oswald Kroh (Ahmadi & Sholeh, 2005: 76-77) menuliskan bahwa
pada masa usia 10-12 tahun, merupakan masa realisme kritis, yaitu anak
mulai mencapai tingkat berpikir secara konkret.


Lihat Selengkapnya Disini

artikel sebelumnya Ruang Telaah Psikosastra Terhadap Kesesuaian Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik serta Perkembangan dan Sastra Anak Sekolah Dasar
Ranking: 5
 
© Download Gratis Area All Rights Reserved