Struktur Puisi

Struktur Puisi
1) Struktur fisik
Struktur fisik (struktur kebahasaan) puisi disebut pula metode puisi.
Medium pengucapan maksud yang hendak disampaikan penyair adalah bahasa
(Waluyo, 1987:66). Dalam arti, struktur ini menyangkut hal-hal yang bersifat
kebahasaan. Unsur-unsur bentuk atau struktur fisik puisi dapat diuraikan dalam
metode puisi, yakni unsur estetik yang membangun struktur luar dari puisi. Unsur-
unsur itu dapat ditelaah satu persatu, tetapi unsur-unsur ini merupakan kesatuan
yang utuh. Struktur fisik atau kebahasaan ini dapat dibagi menjadi beberapa unsur,
antara lain : diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif (majas), verifikasi,
dan tata wajah puisi. (Waluyo, 1987:71)

(1) Diksi
Diksi adalah pemilihan kata. Kata-kata dalam pusisi bersifat konotatif
artinya memiliki kemungkinan makna yang lebih dari satu. Kata-kata dipilih yang
puitis artinya emmpunyai efek keindahan dan berbeda dari kata-kata yang kita
pakai dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pemilihan kata yang cermat, orang
akan tahu bahwa yang dihadapi itu puisi (Waluyo,1987:73). Diksi dapat pula
diartikan sebagai gaya pemilihan kata/kata-kata dalam karya sastra cara
penggunaan kata-kata dalam teks sastra sebagai alat untuk menyampaikan
gagasan dan nilai estetis tertentu (Aminuddin, 1995:201) Dalam puisi kata-kata
sangat besar perannya. Setiap kata mempunyai fungsi tertentu dalam
menyampaikan ide penyairnya. Meyer dalam Badrun, (1989:9) mengatakan
bahwa dalam fungsinya untuk memadatkan suasana, kata-kata puisi hendaknya
dapat menyampaikan makna secara lembut dan bersifat ekonomis. Jadi, kata-kata
puisi hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga dapat menyalurkan pikiran,
perasaan penulisnya dengan baik. Pada proses penciptaan puisi penyair bisa
dengan sangat cermat dalam memilih kata-kata sebab kata-kata yang dipakai atau
dituliskan harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan
irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata
dalam puisi itu.

Pemilihan kata bagi seorang penulis sangat penting untuk diperhitungkan.
Hal ini karena bahwa pemilihan kata sangat berpengaruh terhadap aspek estetik.
Seseorang yang memakai kata atau bahasa dalam karyanya sementara kata atau
bahasa yang dipakainya itu sebelumnya telah digunakan oleh penyair lain, maka
ia akan disebut sebagai plagiat.

Meyer dalam Badrun, (1989:9) membagi diksi dalam tiga tingkat: diksi
formal, diksi pertengahan, diksi informal. Diksi formal adalah bermartabat,
impersonal, dan mengunakan bahasa yang tinggi. Diksi pertengahanagak sedikit
tidak formal dan biasanya kata-kta yang digunakan adalah yang dipakai oleh
kebanyakan orang yang berpendidikan. Sedangkan diksi informal mencakup dua :
bahasa sehari-hari (koloqual) yang dalam hal ini termasuk slang, dan dialek, yaitu
meliputi dialek geografis dan sosial.

Dalam puisi pun digunakan ungkapan konotasi dan denotasi yang
keduanya termasuk bagian dari diksi. Denotatif merupakan makna kata dalam
kamus, makna kata secara objektif yang pengertiannya menunjukan pada benda
yang diberi nama dengan kata itu. Konotasi menurut Altenbernd (1970:10) adalah
kumpulan asosiasi perasaan yang terkumpul dalam sebuah kata yang diperoleh
melalui setting yang dilukiskan. Sedang menurut Meyer (1987:549) konotasi
adalah bagaimana kata dibunakan dan asosiasi orang yang timbul dengan kata itu.

Tentu saja makna konotasi sangat tergantung pada konteksnya. Makna konotasi
dapat diperoleh melalui sosiasi dan sejarahnya (Badrun, 1989:10). Waluyo dalam
bukunya Teori dan Apresiasi puisi (1987:73) membahas dan membagi kata-kata
dalam tiga bagian yang antara lain: (1) perbendaharaan kata-kata, (2) urutan kata,
(3) daya sugesti dari kata-kata.

(2) Pengimajian
Pengimajian dapat dibatasi dengan pengertian: kata-kata atau susunan
kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan,
pendengaran, dan perasaan (Waluyo, 1987:78). Ada hubungan erat antara diksi,
pengimajian, dan kata konkret. Diksi yang dipilih harus menghasilkan
pengimajian dan karena itu kata-kata menjadi lebih konkret seperti kita hayati
melalui penglihatan, pendengaran, atau cita rasa. Baris atau bait puisi itu seolah
mengandung gema suara (imaji auditif), benda yang nampak imaji visual, atau
sesuatu yang dapat kita rasakan, raba atau sentuh (imaji taktil). Ungkapan
perasaan penyair dijelmakan ke dalam gambaran konkret mirip musik atau
gambaran atau cita rasa tertentu. Pengimajian ditandai dengan penggunaan kata
yang konkret dan khas. Imaji yang ditimbulkan ada tiga macam, yakni imaji
visual, imaji auditif, imaji taktil (cita rasa). Ketiganya digambarkan atas bayangan
konkret apa yang dapat kita hayati secara nyata (Waluyo, 1987:79)

(3) Kata Konkret
Kata konkret maksudnya ialah bahwa kata-kata itu dapat menyaran kepada
arti yang menyeluruh. Untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca, maka
kaa-kata harus diperkonkret. Seperti halnya pengimajian, kata yang diperkonkret
ini juga erat hubungannya dengan penggunaan kiasan dan lambang. Jika penyair
mahir memprekonkret kata-kata, maka pembaca seolah-olah melihat, mendengar,
atau merasa apa yang dilukiskan oleh penyair. Dengan demikian pembaca terlibat
penuh secara batin ke dalam puisinya (Waluyo, 1987:81)

(4) Bahasa Figuratif
Bahasa figuratif atau majas yang disebut juga sebagai bahasa kiasan, gaya
bahasa ialah pemakaian kata-kata kiasan dan perbandingan yang tepat untuk
melukiskan sesuatu untuk membentuk daya cipta pengarang dalam membuat cipta
rasa dengan menggunakan pemilihan kata yang tepat yang memungkinkan
’tenaga’ yang sesuai dengan buah pikiran dan perasaan yang terkandung dalam
karya itu. Atau, secara transparan majas dapat diartikan bahasa yang digunakan
penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara
tidak langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau
bermakna lambang. Dan, dalam hal ini bahasa figuratif dikaitkan dengan cara
pengolahan dan pembayangan gagasan. Figuratif sebagai salah satu pemaparan
adalah dimaksud sebagai salah satu bentuk pemaparan yang berbeda dalam
penggunaan dalam komunikasi sehari-hari yang sudah menjadi milik umum,
dalam arti bahasa kias bersifat personal yang merupakan kreasi batiniah di mana
ada berhubungan dengan penuansaan gagasan, pencitraan, pengalaman kultural,
dan konteks kewacanaannya. Dengan pemakaian bahasa figuratif, maka puisi akan
lebih prismatis artinya membersitkan banyak makna alias kaya akan makna
(Waluyo, 1991:81). Bahasa kiasan mempunyai sifat yang umum, yaitu
mempertalikan sesuatu dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu yang lain
(Altenbernd dalam Badrun 1989:26)

Perrine dalam Badrun, (1989:26) mengatakan bahwa bahasa kiasan dapat
menyampaikan makna secara efektif karena: (1) dapat memberikan kenikmatan
imajinatif pada pembaca. Artinya, pembca dapat menikmati lompatan tiba-tiba
dari satu titik ke titik yang lain, mulai dari awal sampai puncak dan hal-hal yang
demikaian lebih menyenagkan, (2) merupakan sebuah jalan untuk menyampaikan
imaji tambahan dalam puisi, yang dalam hal ini dapat mengongkritkan sesuatu
yang bersifat abstrak sehingga puisi terasa lebih sensual, (3) merupakan suatu cara
untuk menambah intensitas emosi, dan (4) merupakan alat untuk pemusatan dan
sekaligus sebagai alat untuk menyatakan sesuatu secara jelas. Secara hakekat,
bahasa kiasan sebagai salah satu alat kepuitisan berfungsi agar sesuatuyang
digambarkan dalam puisi menjadi jelas, hidup, intensif, dan menarik.

Dalam pembentukan bahasa figuratif ada dua hal yang harus diperhatikan
(dua hal yang menjadikan bahasa itu disebut bahasa figuratif), yakni makna kias
atau majas dan lambang. Makna kias terbangun karena penggunaan gaya bahasa.
Pemahaman atas makna kiasan diperoleh melalui penafsiran gaya bahasa tersebut.

Dalam puisi banyak pula digunakan lambang, yaitu penggantian suatu
hal/benda dengan hal atau benda lain. Ada lambang yang bersifat lokal,
kedaerahan, nasional, ada juga yang bersifat universal (berlaku untuk semua
manusia). Seperti halnya kiasan, perlambangan digunakan penyair untuk
memperjelas makna dan membuat nada serta suasana puisi menjadi lebih jelas,
sehingga dapat menggugah hati pembaca. Apabila pengisian sesuatu hal
dibandingkan dengan sesuatu hal lain, maka dalam perlambangan sesuatu hal
tersebut digantikan oleh sesuatu hal lain.

Pengiasan atau pelambangan, selain berfungsi sebagaimana telah
disebutkan di atas, juga dapat berfungsi untuk menandaskan otentisitas atau
orisinilitas penciptaan. Dengan demikian, meskipun dua penyair mengungkapkan
satu objek yang sama, maka hasil pengungkapan akan terlihat berbeda, sebab cara
pengiasan atau perlambangan setiap penyair jelas berbeda.

(5) Verifikasi
 Unsur bunyi dalam puisi nilai keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari
ranah kebahasaan. Bunyi dalam pembahasan ini sangat erat hubungannya dengan
unsur lain dalam satuan teksnya, tidak bisa lepas dari hubungan fungsionalnya
dengan unsur lain dalam satuan sistem tandanya juga merupakan tanda yang
secara asosiatif berperan sebagai unsur dalam merefleksikan gagasan, suasana
maupun berbagai ha lain yang terkait dengan tujuan maupun motif penuturnya
serta efek yang ditimbulkannya pada pembaca. Bunyi dalam puisi dikelompokkan
dalam ciri penggunaan bunyi menyangkut bunyi vokal, konsonan dan
suprasegmental.

Dalam bunyi kita dikenalkan pada beberapa konsep: rima/sajak :
persamaan bunyi; irama : paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas,
baik berupa alunan keras lunak, tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lamah
yang keseluruhannya mampu menimbulkan kemerduan, kesan suasana serta
makna tertentu; dan ragam bunyi yang meliputi bunyi euphony (rangkaian
bunyi/suaran yang lembut dan merdu), bunyi cacophony, dan onomatope. Bunyi
euphony umumnya berupa bunyi-bunyi vokal yang biasanya menggambarkan
sesuatu yang menyenangkan, seperti : “gembira”, “bernyanyi”, dll. Bunyi
cacophony adalah bunyi yang menuansakan suasana ketertekanan batin,
kebekuan, kesepian, ataupun kesedihan yang umumnya berupa bunyi-bunyi
konsonan berada di akhir kata, seperti terdesak, memagut, resah, gelisah, dll.
Bunyi onomatopoeia atau sering disebut onomatope umumnya hanya memberikan
sugesti suara yang sebenarnya, dapat berupa bunyi binatang (kokok ayam dll) atau
bunyi gerak alam lainnya, seperti bunyi ombak, air hujan, dll.

Slametmuljana dalam Badrun (1989:71) mengatakan bahwa rima atau
sajak adalah pola estetika bahasa yang berdasarkan ulangan suara yang
diusahakan dan dialami dengan kesadaran. Persamaan bunyi (rima) mencakup
persamaan bunyi yang terletak di tengah, di akhir, alitersi, dan asonansi. Aliterasi
ialah perulangan konsonan yang sama pada awal kata yang bermacam-macam
atau persamaan bunyi konsonan dalam kata (Altenbernd, Meyyer,dan Cuddon
dalam Badrun, 1989:71). Sedangkan asonansi ialah perulangan bunyi vokal yang
berdekatan Meyyer, Cuddon, 1989:71)

Bunyi dalam puisi menghasilkan rima dan ritma. Rima dapat diartikan
pula pengulangan bunyi secara langsung dalam puisi untuk membentuk
musikalitas atau orkestrasi. Melalui pengulangan bunyi itu, puisi menjadi merdu
ketika dibaca (Waluyo, 1987:90). Marjorie Boulton menyebut rima sebagai
phonetic form. Jika bentuk fonetik itu berpadu dengan ritma, maka akan mampu
mempertegas makna puisi (1979:42)

Rima terbagi atas beberapa jenis, di antaranya (1) rima akhir, yaitu rima
yang terdapat di akhir larik sebuah sajak; (2) rima berpeluk, yaitu rima akhir pada
larik berlarik genap, yang larik pertamanya berirama dengan larik ketiga dan larik
keduanya berirama dengan larik keempat; (3) rima dalam, yaitu rima antara dua
kata atau lebih dalam satu larik sajak; (4) rima ganda, yaitu rima yang terdiri atas
dua suku kata, tetapi hanya suku kata pertama yang mendapat tekanan, dan(5)
rima tengah, yaitu rima antara suku kata pada posisi yang sama, yang terdapat
pada dua kata dalam satu larik sajak (KBBI, 1988:749).

Kendatipun rima mempunyai peranan yang cukup penting dalam puisi, terutama puisi-puisi hasil karya Pujangga Baru, namun dengan munculnya aliran ekspresionisme yang dipelopori Chairil Anwar, maka rima sebagai sarana estetika yang utama menjadi terdesak. Aliran ekspresionisme tidak setuju dengan usaha mementingkan rima atau sajak dalam puisi. Bagi mereka rima itu akan memperkuat kepuitisan apabila
mengandung hakekat ekspresi dan daya evokasi (Badrun, 1989:72).

Mengenai ritma, akan sangat berhubungan dengan bunyi dan juga
berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata-frasa, dan kalimat. Ritma juga
dapat dibayangkan seperti tembang mocopat dalam tembang Jawa. Ritma puisi
berbeda dari metrum (matra). Metrum berupa pengulangan kata yang tetap.
Metrum sifatnya statis. Ritma berasal dari bahasa Yunani rheo yang berarti
gerakan-gerakan air yang teratur, terus-menerus, dan tidak terputus-putus
(mengalir terus) (Waluyo, 1987:94).

(6) Tipografi
Secara harfiah tipografi berarti seni mencetak dengan disain khusus,
susunan atau rupa (penampilan) barang cetak. Menurut Winkler dalam Badrun
(1989:87) tipografi lebih mengarah pada bentuk, yaitu susunan atau rupa. Dalam
hal ini tipografi diartikan sebagai ukiran bentuk, dalam arti unsur visual puisi.
Tipografi merupakan unsur fisik sebuah puisi yang dapat kita lihat
langsung bahkan tanpa perlu di baca terlebih dahulu apalagi menafsirkannnya
lebih dulu. Tipografi ini berkaitan dengan bentuk, cara atau model
penulisan/penyusunan kata, frasa atau kalimat atau baris atau bait.
Meskipun tidak selalu berhubungan langsung dengan makna, namun para
penulis kerap kali menjadikan tipografi ini sebagai salah satu bagian estetika
puisinya. Apalagi bagi penyair seperti Sutardji. Tipografi bukan hanya sebagai
pakaian luar yang dapat mempersolek isi puisi, melainkan pula sesuatu unsur
pembentuk makna atau penguat makna.
Dalam puisi modern (puisi pasca 1967), banyak para penyair yang menulis
puisi dengan kecenderungan mementingkan tipografi sebagai bagian dari karakter
puisi yang ditulisnya. Bahkan tak jarang penyair yang berusaha menciptakan puisi
selayaknya sebuah gambar atau lukisan. Puisi sejenis itu disebut puisi kongkret
karena tata wajahnya membentuk gambar yang mewakili maksud tertentu.
Akan tetapi, tipografi kebanyakan dimaksud untuk menarik perhatian
pembaca. Di samping itu dapat juga membantu pembaca dalam memahami makna
atau situasi yang tergambar dalam puisi. Masalah tipografi ini pun tergantung
pada penyair dan konvensi yang berlaku. Pada zaman Pujangga Baru tipografi
tidak begitu bervariasi. Pada umumnya puisi Pujangga Baru dibuat dalam bentuk
bait yang tersusun secara berurutan. Kalau pun ada variasi, maka hal itu sedikit
sekali. Tipografi merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa dan
drama.

2) Stuktur Batin
Struktur batin puisi mengungkapkan apa yang hendak dikemukakan oleh
penyair dengan perasaan dan suasana jiwanya (Waluyo, 1987:102). Struktur batin
disebut juga dengan istilah hakikat puisi. Ada empat unsur struktur batin/hakikat
puisi, yakni: tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair
terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention). Keempat unsur ini menyatu
dalam ujud penyampaian bahasa penyair.

(1) Tema
Dalam mencipta karya sastra, tentu saja pengarang tidak sembarangan
membeberkan pengalaman atau masalah, tetapi terlebih dahulu dipilih. Pemilihan
itu berdasarkan pemikiran dan pertimbangan tertentu. Dengan adanya pemikiran
dan pertimbangan itu, mak karya sastra yang diciptanya menjadi lebih menarik
(Badrun, 1989:103)
Setiap penyair mempunyai konsep dalam mencipta karya sastra. Konsep
sentral atau ide karya sastra disebut tema (Cohen, 1973:198 dan Cuddon 1979:695
dalam Badrun, 1989:103). Tema dalam karya sastra ada yang diungkapkan secara
langsung dan tidak langsung. Tema yang diungkapkan secara tidak langsung agak
sukar ditangkap (Badrun, 1989:103)
Tema merupakan gagasan pokok atau subjek-matter yang dikemukakan
oleh penyair. Tema sangat mengacu pada penyair sebab temalah yang merupakan
sesungguhnya menjadi landasan utama penciptaan puisi. Stunton melalui
Sudjiman mengemukakan bahwa tema adalah gagasan, ide, pikiran utama, yang
mendasari sebuah karya sastra (Sudjiman, 1992:50).
Stunton dan Kenny lewat Nurgiantoro mendefinisikan tema sebagai makna
yang dikandung oleh sebuah karya, apa pun bentuknya (Nurgiantoro, 1992:50).
Hurtik mempunyai beberapa pandangan mengenai tema. Menurutnya, tema
sebenarnya tidak hanya meliputi sebuah pernyataan tentang sesuatu atau sikap
terhadap topik, tetapi termasuk pandangan pengarang terhadap subjek (hal yang
hendak diungkapkan). Dalam kaitannnya dengan unsur-unsur yang lain tema
dapat dikembangkan melalui sebuah kombinasi penuturan. Tema merupakan sikap
penulis terhadap karya, pembaca , dan kehidupan yang dapat disampaikan dengan
dua cara, yakni eksplisit dan implisit (Hurtik, 1971:4). Tema mencakup segal
aspek kehidupan manusia, misalnya antara lain tentang cinta, kebahagiaan,
kekecewaan, penderitaan, perjuangan, dan keagamaan. Tema tersebut banyak
dipengaruhi oleh lingkungan yang melatarbelakngi penyair (Badrun, 1989:103).

(2) Perasaan
Puisi sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya ditulis sebagai wujud atau
manifestasi ekspresi hati seorang penyair atas pelbagai hal yang terjadi di
sekitarnya. Artinya ada suasana-suasana atau situasi-situasi tertentu ketika
menulis puisi. Suasana-suasana tersebutlah yang kemudian akan menjejak pada
puisi yang diciptakannya.
Suasana atau perasaaan pada puisi juga bisa sangat bergantung pada puisi
yang diusungnya . Sebuah puisi yang bertemakan perjuangan atau patriotisme,
tentu akan memiliki suasana atau perasaaan yang penuh semangat. Puisi-puisi
yang bertemakan cinta tentu akan memiliki suasana yang liris atau mendayu. Atau
puisi duka tentu suasananya akan terasa sedih.

(3) Nada dan Suasana
Dalam menulis puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap
pembaca, apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati, mengejek, menyindir,
atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Sikap penyair
kepada pembaca ini disebut nada puisi (Waluyo, 1987:125). Jika nada merupkan
sikap penyair terhadap pembaca, maka suasana adalah keadaan jiwa pembaca
setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi ituy
terhadap pembaca. Jika kita bicara tentang sikap penyair, maka kita bicara tentang
nada; jika kita berbicara tentang suasana jiwa pembaca yang timbul setelah
membaca puisi, maka kita berbicara tentang suasana. Nada dan suasana puisi
saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap
pembacanya. Nada relidius dapat menimbulkan suasana khusu. Begitu seterusnya.

(4) Amanat
Sesuatu yang hendak disampaikan penyair pada pembaca melalui karya
(puisi) yang diciptakannya dapat dikatakan sebagai amanat. Amanat yang hendak
disampaikan oleh penyair dapat ditelaah setelah kita memahami tema, rasa, dan
nada puisi itu (Waluyo, 1987:130). Tujuan/amanat meruppakan hal yang
mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. amanat tersirat di balik kata-kata
yang disusun, dan juga berada di balik tema yang diungkapkan.
Bagi penyair sendiri memang sangat memungkinkan tidak menyadari atas
amanat puisi yang ditulisnya. Penyair yang demikian biasanya merasa bahwa
menulis adalah kebutuhan rohani, kebutuhan untuk berekspresi atau kebutuhan
untuk berkomunikasi setidaknya dengan diri sendiri.

Lihat Selengkapnya Disini

artikel sebelumnya Teks dan Konteks Puisi
Ranking: 5
 
© Download Gratis Area All Rights Reserved