Keterampilan Sosial

Keterampilan sosial adalah salah satu keterampilan yang penting anak
miliki. Kemampuan sosial ini akan menjadi bekal untuk kehidupan anak dimasa
yang akan datang. Menurut Oden (Tarsidi, 2007: 2) “... bahwa terobosan-
terobasan baru dalam metodologi untuk mengakses kemampuan perseptual pada
bayi menunjukan bahwa bayi yang baru lahir pun sudah sangat perseptif, aktif dan
responsif pada saat interaksi fisik dan sosial.” Proses interaksi sosial ini akan
semakin berkembang sejalannya dengan usia anak.
Terdapat tahapan perkembangan anak antara 3 sampai 6 tahun yang dalam
Seminar Nasional “Mendidik Dengan Hati” dinyatakan dengan masa
“menyatakan harapanku”, tahap ini terbentuk ketika anak menghayati posisi yang
berimbang antara aku adalah penting dan berarti yang berlawanan dengan aku
bukan siapa-siapa. Tahap ini memiliki ciri-ciri yang akan muncul pada perilaku
anak yaitu anak merasa kehadirannya dibutuhkan oleh lingkungan sekitar dan
anak akan berani memunculkan inisiatif dan berimajinasi.
Combs. et al (Fajar, 2008: 1) menyatakan bahwa keterampilan sosial
merupakan:
kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dalam konteks sosial
dengan cara-cara khusus yang dapat diterima oleh lingkungan dan pada saat
bersamaan dapat menguntungkan individu, atau bersifat saling
menguntungkan atau menguntungkan orang lain.
Definisi lain diungkapkan oleh Libet. et al (Fajar, 2008: 1) yang
menjelaskan “...bahwa keterampilan sosial merupakan suatu kemampuan yang
kompleks untuk melakukan perbuatan yang akan diterima dan menghindari
perilaku yang akan ditolak oleh lingkungan.”
Tahap ini merupakan masa yang penting untuk itu guru perlu memberikan
stimulasi yang dapat merangsang perkembangan anak. Adella (2007: 5) juga
menjelaskan terdapat beberapa cara untuk merangsang perkembangan anak yang
akan dijelaskan sebagai berikut:
memancing keberanian anak untuk mencoba ide-ide; memberi tanggung
jawab pribadi, mengajarkan keterampilan-keterampilan sehari-hari; sikap
terbuka dalam menampung aspirasi, fantasi, rasa ingin tahu, dan imajinasi
anak; waktu bermain bukan berarti pendidikan formal.
Keterampilan sehari-hari perlu dikembangkan untuk melatih kemampuan
anak. Sejak usia dini anak perlu membiasakan dan melatih diri untuk terbiasa
dengan lingkungan sosial atau lingkungan yang baru selain orang tua.
Keterampilan sosial merupakan hal yang penting untuk kehidupan anak. Hal ini
senada dengan ungkapan Sheridan (Adella, 2007: 7) yang menyatakan bahwa:
kemampuan anak yang membuatnya diterima dengan baik oleh teman-
teman, bukan semata-mata dikarenakan kepandaian membaca, menulis,
ataupun berhitungnya. Keterampilan sosial pada anak dimaknai sebagai
kepandaian berteman.
Menurut Adella (2007: 7) dalam Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia
menyatakan “...bahwa keterampilan sosial mencakup kecakapan komunikasi
dengan empati, kecakapan bekerjasama, empati, sikap penuh pengertian dan seni
komunikasi dua arah.” Komunikasi yang dimaksud dalam hal ini bukan sekedar
menyampaikan pesan, tetapi isi dan sampainya pesan disertai dengan kesan baik
sehingga akan menumbuhkan hubungan yang harmonis.
Keterampilan sosial ini merupakan aspek terpenting yang akan menunjang
kemampuan interaksi dan penerimaan masyarakat terhadap anak. Keterampilan
sosial ini merupakan keterampilan yang dimiliki seseorang untuk dapat
berinteraksi dengan orang lain. Menurut Sumaatmadja (2002: 1) “...bahwa
keterampilan sosial merupakan keterampilan yang erat hubungannya dengan
kehidupan masyarakat.”
Menurut Schneider. et al (Fajar, 2008: 1) agar seseorang berhasil dalam
interaksi sosial maka dibutuhkan beberapa keterampilan sosial yang terdiri dari:
1. Memahami pilihan, emosi, dan tujuan atau maksud orang lain.
2. Menangkap dan mengolah informasi tentang partner sosial serta
lingkungan pergaulan yang potensial menimbulkan terjadinya interaksi.
3. Menggunakan berbagai cara yang dapat dipergunakan untuk memulai
pembicaraan atau berinteraksi dengan orang lain, memeliharanya, dan
mengakhirinya dengan cara yang positif.
4. Memahami konsekuensi dari sebuah tindakan sosial, baik bagi diri sendiri
maupun bagi orang lain atau target tindakan tersebut.
5. Membuat penilaian moral yang matang yang dapat mengarahkan tindakan
sosial.
6. Bersikap sungguh-sungguh dan memperhatikan kepentingan orang lain.
7. Mengekspresikan emosi positif dan menghambat emosi negatif secara
tepat.
8. Menekan perilaku negatif yang disebabkan karena adanya pikiran dan
perasaan yang negatif tentang partner sosial.
9. Berkomunikasi secara verbal dan nonverbal agar partner sosial
memahaminya.
10. Memperhatikan usaha komunikasi orang lain dan memiliki kemauan untuk
memenuhi permintaan partner sosial.
Mclntyre (Kurniati, 2006: 36) menyebutkan bahwa keterampilan sosial anak
di antarnya meliputi hal-hal berikut ini:
1) tingkah laku dan interaksi positif dengan teman lainnya; 2) perilaku yang
sesuai di dalam kelas; 3) cara-cara mengatasi frustasi dan kemarahan; 4)
cara-cara untuk mengatasi konflik dengan yang lain. Sementara itu untuk
anak prasekolah contoh keterampilan sosial yang perlu dikembangkan
adalah: 1) keterampilan yang dapat membantu dia di tingkat selanjutnya
seperti keterampilan mendengarkan; 2) keterampilan untuk meningkatkan
kesuksesan dalam belajar di sekolah seperti keterampilan bertanya; 3)
bagaimana menjalin dan memelihara pertemanan; 4) perasaan; 5) positif,
tidak agresif ketika menghadapi konflik; dan 6) membiasakan diri dengan
stress.
Sedangkan menurut Helms & Turner (1984: 225) menyatakan bahwa pola
perilaku sosial anak yaitu meliputi:
1) anak dapat bekerjasama (cooperating) dengan teman; 2) anak mampu
menghargai (altruism) teman, baik menghargai milik, pendapat, hasil karya
teman atau kondisi-kondisi yang ada pada teman; 3) anak mampu berbagi
(sharing) kepada teman; 4) anak mampu membantu (helping other) kepada
teman
Hurlock (1980: 118) menuliskan “...bahwa pola perilaku sosial pada anak
yang terdiri dari meniru, persaingan, kerjasama, simpati, empati, dukungan sosial,
membagi, dan perilaku akrab.”
Beaty (Afiati, 2005: 14) memberikan keterangan mengenai keterampilan
sosial yang disebut juga prosocial behavior yaitu mencakup perilaku-perilaku di
bawah ini:
a) empati yang di dalamnya anak-anak mengekspresikan rasa haru dengan
memberikan perhatian kepada seseorang yang sedang tertekan karena suatu
masalah dan mengungkapkan perasaan lain yang sedang mengalami konflik
sebagai bentuk bahwa anak menyadari perasaan yang dialami orang lain; b)
kemurahan hati atau kedermawanan di dalamnya anak-anak berbagi dan
memberikan suatu barang miliknya pada seseorang; c) kerjasama yang di
dalamnya anak-anak mengambil giliran atau bergantian dan menuruti
perintah secara suka rela tanpa menimbulkan pertengkaran; dan d) memberi
bantuan yang di dalamnya anak-anak membantu seseorang yang
membutuhkan.
Keterampilan sosial memiliki peranan yang sangat penting bagi manusia, hal
ini dikarenakan sejak lahir hingga akhir hayat manusia akan selalu membutuhkan
orang lain untuk melangsungkan hidupnya. Oleh karena itu manusia merupakan
makhluk sosial karena manusia membutuhkan interaksi dengan manusia lain.
Melihat hal itu maka sejak usia dini perlu ditanamkan pembelajaran untuk
merangsang keterampilan anak.
Memberi tugas-tugas dan beberapa hal perlu dilakukan dan dilalui untuk
melatih keterampilan sosial anak seperti memberikan contoh yang baik kepada
anak. Hal ini senada dengan pernyataan Adella (2007: 8) yang akan diuraikan
berikut ini
1. Menetapkan area skill dan target perilaku yang akan dilatih.
2. Coaching
Menjelaskan sasaran, maksud, dan tahap-tahap spesifik untuk memenuhi
target perilaku.
3. Modeling
Mengaplikasikan tahap-tahap melalui contoh yang dapat diamati anak,
menanyakan kembali penangkapan anak, mengulang-ulang contoh hingga
lengkap dan tepat, meminta anak mengulang apa yang ia amati.
4. Practicing
Meminta anak bermain peran, memberi umpan balik, mendiskusikan
kesulitan yang dihadapi anak.
5. Praising
Memberikan pujian ketika ‘target perilaku’ dapat ditampilkan dengan
sempurna.
6. Drawing up a contract
konsekuensinya dalam bentuk kontrak.
Keterampilan yang ada pada diri anak dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor
yang terjadi baik dari dalam diri anak atau dari lingkungan di luar diri anak.
menurut Natawijaya (Handayani, 2004: 11) faktor-faktor yang mempengaruhi
keterampilan sosial anak adalah sebagai berikut:
a. Faktor dalam, ialah faktor yang dimiliki oleh manusia semenjak
kelahirannya. Didalamnya termasuk kecerdasan, bakat khusus, jenis
kelamin, sifat-sifat dan kepribadian.
b. Faktor luar, ialah faktor-faktor yang dihadapi oleh individu pada waktu
dan setelah dilahirkan, terdapat dalam lingkungan meliputi: keluarga,
sekolah, masyarakat, kelompok, sebaya dan lingkungan fisik.
c. Faktor-faktor yang diperoleh apabila faktor endogen terpadu dengan faktor
eksogen, melipui: sikap, kebiasaan, emosi, dan kepribadian.
Dengan melihat faktor-faktor di atas guru dan orang tua perlu memfasilitasi
dan memberikan stimulasi untuk meningkatkan keterampilan sosial anak.


Download file aslinya disini


artikel sebelumnya Perkembangan Emosi

 

Ranking: 5
 
© Download Gratis Area All Rights Reserved