Bermain Peran

Bermain peran adalah salah satu jenis permainan aktif yang dapat dilakukan
oleh anak. Disini anak akan berperan menjadi sesorang yang dianggap model oleh
diri anak. Kegiatan yang dilakukan oleh anak berasal dari tingkah laku yang nyata
dan sering diamati dalam kehidupan sehari-hari anak. Dalam sebuah penelitian
Arixs (2008: 1) “...ternyata model belajar bermain peran membuahkan hasil
sekitar 90% hasil belajar gampang diserap oleh anak sedangkan belajar lewat
unjuk kerja hanya 65% terserap oleh anak.”
Moeslichatoen (2004: 38) menjelaskan “...bahwa bermain pura-pura adalah
bermain yang menggunakan daya khayal yaitu dengan memakai bahasa atau
berpura-pura bertingkah laku seperti benda tertentu, situasi tertentu, atau orang
tertentu, dan binatang tertentu, yang didalam dunia nyata tidak dilakukan.”
Menurut Mulyadi (2008: 1) “...bahwa role play atau bermain peran adalah
permainan yang biasa dilakukan anak-anak dimana dalam permainan tersebut
mereka meniru kegiatan atau pekerjaan orang dewasa.” Sedangkan menurut Arief
(2008: 1) menyatakan “...bahwa bermain peran adalah bentuk permainan di mana
seorang anak dapat menjadi apa saja yang memiliki seperangkat perilaku tertentu
yang unik, seperti guru, dokter, dan juga orang tua.”
Dalam Hurlock (1978: 329) “...bahwa bermain peran adalah bentuk bermain
aktif di masa anak-anak, melalui perilaku dan bahasa yang jelas, berhubungan
dengan materi atau situasi seolah-olah hal itu mempunyai atribut yang lain
ketimbang yang sebenarnya.” Sedangkan Rosalina (2008: 1) mengungkapkan
“...bahwa bermain peran yaitu permainan meniru kegiatan atau pekerjaan orang
dewasa. Permainan ini sangat bagus untuk anak-anak, sebab diusia balita
kemampuan berfantasi, kognitif, emosi, dan sosialisasi anak tengah berkembang.”
Memperkuat ungkapan di atas Rachman (2008: 1) menyatakan “...bahwa
permainan ini juga akan mengasah dan mengembangkan seluruh kemampuan
yang anak miliki.”
Senada dengan ungkapan di atas Hartley (Juwita, 2000: 229) juga
mendefinisikan drama peran sebagai berikut:
drama peran adalah bentuk permainan bebas dari anak-anak yang masih
muda. Adalah salah satu cara bagi mereka untuk menelusuri dunianya,
dengan meniru tindakan dan karakter dari orang-orang yang berada di
sekitarnya. Ini adalah ekspresi paling awal dari bentuk drama, namun tidak
boleh disamakan dengan drama atau ditafsirkan dengan penampilan. Drama
peran adalah sangat sementara, hanya berlaku sesaat. Bisa berlangsung
selama beberapa menit atau terus berlangsung untuk beberapa waktu. Bisa
juga dimainkan berulang kali bila ketertarikan si anak cukup kuat; tetapi bila
ini terjadi, maka pengulangan tersebut bukanlah sebagai bentuk latihan.
Melainkan adalah bentuk pengulangan yang kreatif untuk kesenangan murni
dalam melakukannya. Ia tidak memiliki awalan dan akhiran dan tidak
memiliki perkembagan dalam arti drama.
Dirdjosoemarto (Mulyadi, 2008: 1) mengungkapkan “...bahwa metode
bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah-olah berada dalam suatu
situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep.” Dalam
metode ini anak berkesempatan terlibat secara aktif sehingga akan lebih
memahami konsep dan lebih lama mengingat.
Senada dengan ungkapan di atas “Departemen Pendidikan Nasional” (2001:
41) juga menjelaskan “...bermain peran adalah memerankan tokoh-tokoh atau
benda-benda di sekitar anak dengan tujuan untuk mengembangkan daya khayal
(imajinasi) dan penghayatan terhadap bahan pengembangan yang dilaksanakan.”
Bermain peran dapat melatih diri anak dalam keterampilan sosial karena
bermain peran dapat memberikan kesempatan pada diri anak untuk mencoba
beberapa peran yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan peran yang sering anak
lihat. Ketika anak bermain dalam peran ini, anak akan menjadi lebih bersosialisasi
dengan efektif dari pada secara langsung diajari mengenai keterampilan sosial.
Dari beberapa ungkapan di atas dapat disimpulkan bahwa bermain peran
adalah permainan aktif yang anak lakukan dengan cara meniru perilaku orang,
binatang atau benda lainnya yang anak lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Bermain peran ini dapat mengingatkan imajinasi, kognitif, emosi, dan
kemampuan sosial anak. Dengan permainan ini anak akan belajar menjadi orang
lain atau berperan selain dirinya sehingga akan membuat anak belajar berinteraksi
dan membuat perilaku anak diterima di lingkungan. Disini juga anak akan belajar
bagaimana berempati pada posisi orang lain dan melatih kemampuan berbahasa
pada anak.
Sugianto (1995: 44) menyatakan terdapat beberapa manfaat yang bisa
dipetik dari bermain peran adalah:
membantu penyesuaian diri anak. Anak juga belajar untuk memandang suatu
masalah dari kaca mata tokoh-tokoh yang ia perankan sehingga diharapkan
dapat membantu pemahaman sosial dari diri anak. Anak dapat memperoleh
kesenangan dari kegiatan yang dilakukan atas usaha sendiri. Perkembangan
bahasa juga dapat ditingkatkan karena adanya penggunaan bahasa di dalam
kegiatan bermain peran ini.
Manfaat bermain peran sangat besar bagi perkembangan anak, bermain
peran juga memiliki beberapa tujuan yang diharapkan oleh guru yaitu melatih
kemampuan berbahasa anak dan merangsang keterampilan sosial anak agar
terlatih dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat tujuan bermain peran yang ditulis
dalam Departemen Pendidikan Nasional (2001: 41) yaitu “...melatih daya
tangkap, melatih anak berbicara lancar, melatih daya konsentrasi, melatih
membuat kesimpulan, membantu perkembangan intelegensi, perkembangan fantasi, menciptakan suasana yang menyenangkan.”

Rachman (2008: 1) juga mengungkapkan beberapa aspek yang dapat terasah
dengan bermain peran adalah:
kemampuan sosial, kemampuan mengelola emosi, kreativitas, disiplin, dan
keluwesan. Dalam bermain peran anak belajar berbagi, bergiliran dan
berkomunikasi dengan temannya untuk menghasilkan kerjasama. Anak juga
akan memahami perasaan sedih, takut, marah dan kecewa ketika berperan
menjadi orang lain.
Selain ungkapan di atas bermain peran juga memiliki manfaat positif yaitu
anak dapat mengerti perasaan orang lain, anak belajar membagi tanggung
jawabnya, berbagi pendapat dengan orang lain, belajar mengambil keputusan
dalam kelompok.
Dalam Smilansky (Tarsidi, 2007: 2) bermain peran memiliki beberapa
elemen yang membuat hal ini menjadi sesuatu yang menarik diantaranya
“...bermain dengan melakukan imitasi, bermain pura-pura seperti suatu objek.
Anak melakukan gerakan dan menirukan suara yang sesuai dengan objeknya,
bermain dengan menirukan gerakan, persisten, interaksi, komunikasi verbal.”
Bermain peran menurut Stassen & Berger (Sugianto, 1995: 25) menyatakan
kategori bermain peran adalah:
a) Exploratory and manipulative (bermain menjelajah dan manipulatif)
kegiatan ini bisa diamati sejak masa bayi, anak sering menunjukan rasa
senang atau antusiasme yang besar sewaktu ia mengamati atau bermain
dengan benda-benda disekelilingnya.
b) Destructive play (bermain menghancurkan) mulai tampak pada awal masa
kanak-kanak. Sering dilihat anak menghancurkan balok-balok kayu yang
sudah disusunnya dengan susah payah lalu membangunnya kembali
dengan semangat. Melalui kegiatan bermain menghancurkan anak dapat
merasakan pengalaman bahwa ia mampu mengendalikan atau berbuat
sesuatu terhadap lingkungannya.
c) Imaginative atau make-belive play (bermain berkhayal atau pura-pura)
mulai tampak sejak anak berusia 3 tahun. Kegiatan khayal atau bermain
pura-pura ini melibatkan unsur imajinasi dan peniruan terhadap perilaku
orang dewasa.
Bermain peran terdiri dari dua yaitu bermain peran yang melibatkan anak
lebih dari dua orang dan bermain peran yang hanya melibatkan anak dua orang
saja bahkan bisa juga satu orang anak. Dalam www.yarsi.ac.id membagi bermain
peran menjadi dua sentra yang terdiri dari main peran makro dan main peran
mikro. Main peran makro adalah bermain yang sifatnya kerjasama lebih dari dua
orang. Sedangkan main peran mikro adalah awal bermain kerjasama dilakukan
hanya dua orang saja bahkan sendiri.
Senada dengan ungkapan di atas, www.kluguru.com juga mengatakan
“...bahwa ada dua cara dalam melaksanakan bermain peran yaitu bermain peran
besar yang memerlukan kostum dan perlengkapan sesuai dengan peran anak dan
yang kedua bermain peran kecil yang memerlukan peralatan tiruan (mainan)
seperti: boneka, peralatan dapur mainan, kendaraan mainan, dll.”
Ungkapan ini diperkuat dalam buku Pedoman Penerapan Pendekatan
“Beyond Centers And Circle Time (BCCT)” (2006: 30) “...bahwa bermain peran
terdiri dari main peran makro dan main peran mikro. Kesempatan main peran
makro dan main peran mikro dapat mendukung pengembangan kecerdasan
jamak.”
Guru harus mempersiapkan mengenai kegiatan yang akan dilakukan ketika
anak akan bermain peran. SSCED (Social Studies Center for Educator
Development) dalam Nugraha (2006) menjelaskan beberapa langkah dalam
bermain peran yaitu:
1. Initiation and Direction (pendahuluan dan pengarahan)
Guru mengidentifikasi suatu topik yang menuntut siswa melihat berbagi
sisi dari sebuah permasalahan dan isu-isu yang dianggap sulit, mampu
mengembangkan pendapat, termasuk pemeran inti dengan kepribadian
yang menarik.
2. Describing the Context (menjelaskan konteks)
Guru harus mengatur konteks dan situasinya harus diatur sejelas-jelasnya.
3. Roles (pemeranan)
Kegiatan bermain peran dinyatakan berhasil seandainya setiap orang bisa
mendapatkan peran.
4. Enactment
Pastikan siswa tetap dalam proses peranannya
5. Debriefing
Siswa melengkapi aksi dengan melakukan tanya jawab dengan guru,
berdiskusi, mengungkapkan alasan, menarik kesimpulan dan bekerja sama.
Selain ungkapan di atas guru juga perlu melakukan langkah-langkah dalam
bermain peran yaitu guru menerangkan teknik ini dengan cara sederhana dan
memperhatikan tingkat umur anak, guru menceritakan peristiwa itu secukupnya,
jika baru pertama kali diadakan pilihlah anak yang dapat melaksanakan tugas
tersebut, guru menghentikan bermain peran pada saat situasi memuncak (klimaks)
dan kemudian membuka diskusi umum, guru dan anak dapat menarik kesimpulan.
Pada sebelum melakukan kegiatan bermain peran guru perlu menceritakan
peran yang akan dilakukan untuk merangsang pengetahuan pada diri anak. Guru
membagi peran pada anak dan tidak lupa memberikan kata-kata baru supaya
kemampuan berbahasa anak bertambah. Selain itu perlu diperhatikan juga
keterampilan sosial yang anak lakukan pada saat berperan menjadi orang lain.
Pola umum yang biasa dilakukan menurut Moeslichatoen (2004: 39)
bermain peran yang dilakukan oleh anak berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
seperti:
a) Pola kehidupan keluarga, misalnya mengatur perabot rumah tangga,
memasak, makan, merawat baju, menjadi ayah atau ibu.
b) Bermain jual beli di pasar, di toko, di supermarket.
c) Bermain dalam kaitan transportasi, misalnya anak naik angkutan kota, bus,
jadi sopir, naik kereta api, jadi masinis, naik kapal laut, kapal udara, dan
lain-lain.
d) Bermain sebagai polisi yang mengatur lalu lintas.
e) Bermain sebagai tokoh dalam dongeng.
Kegiatan bermain peran yang di atas telah diuraikan dapat dilakukan untuk
untuk anak usia dini. Hal ini akan merangsang perkembangan anak dalam
berbagai aspek perkembangan.


Download file aslinya disini

artikel sebelumnya Bermain

Ranking: 5
 
© Download Gratis Area All Rights Reserved