Teknik Menulis Cerita Pendek (Cerpen)

Teknik Menulis Cerita Pendek
Seorang penulis pemula harus berbekal pemahaman praktis secara empirik
selain teori-teori yang diketahuinya. Berikut adalah langkah-langkah yang harus dipahami penulis agar memperoleh pemahaman praktis berdasarkan data-data empiris.
1) Menentukan tema 
Ketika menentukan tema, kita sebenarnya sudah menggariskan cerita yang akan kita tulis secara garis besar, dengan kata lain kita sudah merencanakan kerangka cerita. Pada kegiatan fiksi, rumusan masalah/tema itu implisit saja. (Durachman dalam Mulyana, 1998: 66-67).
2) Memulai menulis 
Langkah yang dianggap sulit adalah ketika kita akan memulai kegiatan menulis.
Kita akan coba meninjau beberapa langkah yang bisa dijadikan alternatif
mengawali sebuah cerita
a. Awali dengan suspense
b. Memulai dengan konflik
c. Memulai dengan peristiwa/awal cerita
d. Awali dengan pendeskripsian latar
e. Awali dengan pendeskripsian tokoh
f. Memulai dengan simbol-simbol
g. Memulai dengan akhir cerita (Durachman dalam Mulyana, 1998: 71-82)

3) Merangkaikan peristiwaAda tiga belas teknik untuk merangkaikan peristiwa dalam sebuah cerpen atau novel. Teknik-teknik tersebut adalah sebagai berikut.
a. Merangkaikan peristiwa dengan teknik linier
b. Merangkaikan peristiwa dengan teknik maju ingatan maju
c. Merangkaikan peristiwa dengan teknik maju ingatan bayangan
d. Merangkaikan peristiwa dengan teknik maju bayangan ingtan
e. Merangkaikan peristiwa dengan teknik maju bayangan maju
f. Merangkaikan peristiwa dengan teknik bayangan maju ingatan
g. Merangkaikan peristiwa dengan teknik bayangan maju bayangan
h. Merangkaikan peristiwa dengan teknik bayangan ingatan bayangan
i. Merangkaikan peristiwa dengan teknik bayangan ingatan bayangan ingatan
j. Merangkaikan peristiwa dengan teknik ingatan maju bayangan
k. Merangkaikan peristiwa dengan teknik ingatan maju ingatan
l. Merangkaikan peristiwa dengan teknik ingatan bayangan maju
m. Merangkaikan peristiwa dengan teknik ingatan bayangan ingatan
(Durachman dalam Mulyana, 1998 : 83-100)

4) Membangun konflik dan mengakhiri ceritaKonflik akan lahir dengan sendirinya seiring terjalinnya peristiwa demi
peristiwa, karena konflik sebenarnya merupakan konsekuensi dari hubungan
sebab akibat. Tanpa upaya yang sistematis pun konflik akan secara alamiah
muncul bila kita sudah merangkaikan peristiwa karena hubungan sebab akibat.
Oleh karena itu yang diperlukan adalah bagaimana kita merangkaikan peristiwa berdasar hubungan kausal

Selain teknik-teknik diatas, Harris Effendi Thahar (1999) mengemukakan kiat-
kiat yang harus diperhatikan oleh seorang penulis cerpen. Hal ini akan menajamkan intuisi seorang penulis agar lebih jeli mencermati setiap detil yang bisa membuat karyanya menarik, kiat-kiat tersebut adalah sebagai berikut.
1) Pargraf pertama

Selain judul, pargraf pertama adalah etalase sebuah cerpen. Gaya tarik sebuah toko terletak dibalik kaca depannya yang memajang barang-barang yang ditawarkan kepada pembeli demikian pula halnya cerpen, ketika paragraf pertama mulai dibaca, lantas tidak menarik, maka besar kemungkinan pembaca tidak melanjutkan cerita sampai tamat. Begitu membca paragraf pertama, pembaca mengharapkan informasi baru, menggelitik dan enak bahasanya.
2) Mempertimbangkan pembaca

Pembaca adalah konsumen, sedangkan pengarang adalah produsen. Produsen
harus senantiasa mempertimbangkan mutu produknya untuk dipasarkan
apalagi, mengingat pasar yang semakin tajam, pembaca sebagai konsumen
jelas memerlukan bacaan baru, segar, unik, menarik dan menyentuh rasa
kemanusiaan.
3) Menggali suasana

Melukiskan suatu latar kadang-kadang memerlukan detil yang jelimet.
Suasana alam sebagai suatu latar crita dapat lebih menarik daripada
disaksikan sendiri, begitulah pada dasarnya pembaca, ingin sesuatu yang baru. Baru dalam pengertian cara pengungkpannya.
4) Bumbu-bumbuBumbu dalam sebuah cerita biasanya berkenaan dengan unsur humor, jika
pngarang meletakkan unsur tersebut sebagai bumbu, maka ia tidak akan
berperan sebagai bahan pokok garapan. Karena peran yang sebenarnya adalah
untuk lebih menghidupkan suasana. Akan tetapi penambahan bumbu pada
cerita pun harus fungsional.
5) Menggerakkan tokoh (karakter)Cerpen mestilah mempunyai tokoh, karena cerpen menceritakan peristiwa-
peristiwa, nasib yang menimpa manusia. Karakter tokoh menjadi kuat apabila
tokohnya hidup, artinya bukan tokoh seperti buah catur atau semut yang
berbaris dan berfungsi sebagai pajangan.
6) Fokus ceritaDalam sebuah cerita rekaan mestilah ada yang diceritakan, dan penceritaannya harus fokus. Cerpen juga memerlukan fokus seperti halnya
sebuah karya foto yang baik. Jika fokusnya kabur atau objeknya tenggelam
dalam objek sekelilingnya, maka karya foto itu bukanlah foto yang bagus.
Sedangkan foto yang bagus adalah foto yang fokusnya tajam, sedangkan
objek di luarnya merupakan faktor pendukung objek utama sehingga tampak
wajar, artistik, dan boleh jadi mengagumkan.
7) Sentakan akhirKecenderungan cerpen-cerpen mutakhir adalah dengan sentakan akhir yang
menyaran, yang membuat pembaca menafsirkan akhir cerita. Sebagai
pegarang pemula, dianjurkan untuk belajar menghentikan cerita ketika konflik
telah selesai tanpa perlu menambah khutbah di akhir cerita.
8) MenyuntingMenyunting artinya membenahi hasil pekerjaan yang baru selesai, menurut
pengalaman beberapa pengarang, pekerjaan menyunting merupakan pekerjaan
yang tidak menarik dan diluar proses kreatif. Namun, proses penyuntingan
merupakan keharusan, jika ingin menjadi penulis andal.
9) Memberi judulJudul merupakan cerminan dari isi, maka sebaiknya judul ditulis belakangan,
meskipun sebelum memulai menulis Anda telah menyiapkan sebuah judul,
dan berangkat dari judul itu. Tapi tak ada salahnya judul disimpan saja dulu,
sebelum semua isi rampung ditulis, karena dalam proses menuis, tidak jarang
terjadi penyimpangan dan perkembangan baru dari ide semula.

Download file aslinya disini

Silahkan baca juga Pengertian Cerpen dan Ciri-ciri Cerpen 
Ranking: 5
 
© Download Gratis Area All Rights Reserved